Didalam situasi survival, kemampuan untuk menyalakan
api dapat membuat perbedaan antara hidup dan sekarat. Api dapat memenuhi banyak
banyak kebutuhan. Dapat menyediakan kehangatan dan kenyamananr.Juga untuk memasak
dan menghangatkan makanan,serta juga dengan makanan yang hangat dapat membuat
kita bisa menghemat kalori dalam tubuh kita yang biasanya diproduksi sewaktu
tubuh memproduksi panas tubuh. Anda dapat menggunakan api untuk memurnikan air,
mensterilkan perban, isyarat untuk penolong, dan memberikan perlindungan dari
binatang. Dan secara pisikologi memberikan kedamaian pikiran dari ketegangan
serta persahabatan. anda dapat juga menggunakan api untuk menghasilkan perkakas
dan senjata.
Api dapat menyebabkan permasalahan, juga yaitu dapat menyebabkan kebakaran hutan.
Api dapat juga menyebabkan membakar peracunan karbon monoksida ketika dinyalakan
dalam shelter perlindungan.
PRINSIP DASAR API
Untuk membuat api, perlu dipahami prinsip dasar api, yaitu: Bahan bakar
tidak membakar secara langsung. Saat anda memberikan panas pada bahan bakar
akan menghasilkan suatu gas. Gas ini,berkombinasi dengan oksigen di udara,dan
terbakar.
Pemahaman konsep segi tiga api adalah sangat penting yang akan dengan tepat
membangun dan memelihara suatu api. Ke tiga sisi segi tiga ini diwakili oleh
udara, panas, dan bahan bakar. Jika anda memindahkan manapun dari ketiga ini,
api akan mati. Perbandingan yang benar dari komponen ini adalah sangat penting
untuk api agar bisa membakar pada kemampuan terbesar nya. Satu-Satunya cara
untuk belajar perbandingan ini adalah mempraktekannya
PEMILIHAN TEMPAT DAN PERSIAPAN
Anda perlu untuk memutuskan lokasi dan mengatur apa yang akan dipakai. Sebelum
mebuat api perhatikan hal-hal berikut:
- Areal (medan dan cuaca) di tempat anda beraktifitas
- Bahan dan alat yang tersedia
- Waktu - berapa lama anda punya waktu
- Kebutuhan - kenapa anda butuh api
- Keamanan - perhatikan arah angin dan sekeliling
anda jangan sampai mengakibatkan kebakaran hutan.
Carilah tempat yang kering yang:
- Terlindung dari angin
- Tempatnya layak dan cocok dengan shelter anda (jika
punya)
- Bisa menkonsentrasikan panas pada arah yang anda
inginkan
- Ada persediaan kayu atau bahan bakar lain yang tersedia
PEMILIHAN MATERIAL UNTUK API
Anda akan membutuhkan tiga tipe material untuk membuat api yaitu: Tinder
(penyala), kindling (pemancing), dan Fuel (bahan bakar)
Tinder adalah material kering yang akan menyala
dengan panas atau suatu percikan api. Kita harus benar menyediakan bahan yang
benar-benar kering agar hanya dengan percikan api bisa menyala.
Jika anda mempunyai alat yang bisa menghasilkan bunga api, charred cloth akan
benar-benar dibutuhkan, karena bisa menahan nyala kecil dalam waktu lama, dan
memungkinkan anda untuk menaruh tinder (pemancing) pada bagian yang panas untuk
memancing nyala api sedikir besar. Anda bisa membuat charred cloth dengan mempergunakan
kapas dan dipanaskan hingga berubah menjadi hitam, tapi tidak membakarnya. Setelah
menghitam, harus disimpan dalam wadah kedap udara agar tetap kering, Persiapkan
kain ini di awal perjalanan anda sebelum anda berada dalam situasi survival.
Tambahkan item ini dalam survival kit pribadi anda.
Kindling, adalah material yang sudah disiapkan dan
gampang menyala yang akan ditambahkan setelah bahan tinder menyala. Material
ini juga harus yang sudah kering dan mudah terbakar dengan cepat. Kindling akan
meningkatkan temperatur api dan akan membuat menyala lebih besar.
Fuel, material ini diperlukan saat api sudah menyala
besar dan baru dibutuhkan bahan pembakar yang agak besar dan terbakar secara
pelahan-lahan.
Berikut adalah jenis-jenis serta golongan dari material
atau bahan yang bisa dipakai untuk membuat api
TINDER / PENYALA
|
KINDLING / PEMANCING
|
FUEL / BAHAN BAKAR
|
- Kayu kering yang diserut
- Rumput kering, Pakis mati, Lumut kering,
Jamur kering
- Jerami
- Serbuk gergaji
- Dedaunan kering
- Bagian yang mati atau membusuk dari batang
pohon
- Serabut tumbuhan yang mengering
- Daun palm atau kelapa yang mati
- Mensiu
- Kapas
- Kain kasa
- Bagian luar bambu yang di serut
|
- Ranting kecil
- Potongan kayu kecil
- Kayu yang dipisah-pisahkan
- Karton tebal
- Potongan kayu yang diambil dari bagian dalam
potongan kayu besar
- Kayu yang tersiram dengan cairan yang mudah
terbakar, seperti besin, minyak atau lilin
|
- Kayu kering yang masih berdiri dan cabang
yang sudah mati dan kering
- Bagian dalam yang kering dari batang pohon
tumbang, dahan atau cabangnya
- Rumput kering yang dibelitkan jadi satu
- Kotoran hewan yang sudah mengering
- Gemuk hewan
- Batubara, serpih mengandung minyak.
|
 |
TEMPAT PENGAPIAN
Pilihlah tempat yang terlindung. Kecuali untuk keperluan signal
atau tanda, jangan menyalakan api dibawah pohon. Bersihkan dedaunan,
ranting-ranting, jamur dan rumput kering dalam radius 2m melingkar sampai
mendapatkan permukaan tanah kosong. Jika tanah lembab atau basah, buatlah
alas dari batang kayu dan lapisi dengan tanah, atau alasi dengan batu
|
 |
PENGAPIAN BERBENTUK PANGGUNG
Buatlah empat tiang dati batang kayu dan letakan alas pengapian dari batang
kayu dan beri lapisan dengan tanah diatasnya. Buatlah dua dari keempat
tiang agak tinggi dan buatlah sebatang kayu melintang. Kayu yang melintang
ini bisa dijadikan tempat untuk menggantungkan tempat memasak makan. Pengapian
seperti ini bisa dipakai pada daerah yang berrawa-rawa atau tanah yang
becek berair. |
BAGAIMANA MEMBUAT API
Ada beberapa metode untuk menyiapakan api, masing-masing mempunyai kelebihan.
Situasi yang anda hadapi akan membuat anda bisa memutuskan cara apa yang akan
dipakai.
Ada beberapa cara-cara lain untuk membangun api unggun,
situasi anda serta jenis material yang tersedia diarea tersebut mungkin akan
membuat anda membangun api unggun dengan metode yang lebih cocok.
BAGAIMANA MENYALAKAN API
Selalu nyalakan api unggun anda dari arah melawan angin. Pastikan anda
menaruh tinder, kindling dan fuel sedemikiasn rupa sehingga api unggun anda
akan menyala sepanjang anda butuhkan. Pematik menyediakan panas awal yang diperlukan
untuk menyalakan tinder dan terbagi dalam dua jenis katagori yaitu metode moderen
dan primitive
METODE MODEREN
Pematik moderen menggunakan alat moderen - yaitu item yang biasa kita pakai
dalam menyalakan api.
Korek Api: Pastikan korek api ini waterproof. Juga
simpan dalam wadah tahan air bersamaan dengan lapisan goresnya.
Convex Lens: Metode ini hanya bisa digunakan saat
siang, dan marahari bersinar. Lensanya bisa dipakai dari lensa teropong, camera,
telescope, atau kaca pembesar. Sudut peletakan lensa diatur agar sinar matahari
bisa terkumpul diatas tinder. Peganglah lensa pada sudut tersebut hingga tinder
mulai membara. Tiuplah pelan-pelan tinder agar kelihatan nyala apinya.
Metal Match: Tempatkan daun kering dibawah
tinder denga bagian yang mengarah. Tempatkan metal match diatas daun kering,
dan pegang metal match dengan satu tangan dan pisau ditangan satunya lagi. Goreskan
pisau dengan metal match untuk menghasilkan percikan api. Percikan api akan
mengenai tinder dan saat tinder mulai membara lakukan juga cara diatas yaitu
meniupnya pelan-pelan hingga menyala.
METODE PRIMITIF
Metode pematik primitif ini adalah metode yang dipakai oleh nenk moyang
kita
Flint and Stell: Metode percikan langsung
ini merupakan metode yang paling mudah dari metode primitif untuk digunakan.
Metode batu api dan metode steel ini yang paling dapat dipercaya untuk metode
percikan langsung. Benturkan batu api atau benda lain yang keras, tajam-batu
karang dengan baja karbon (stainless stell tidak menghasilakan percikan yang
bagus). Metode ini memerlukan kelenturan pergelangan tangan dan latihan. Saat
percikan ditangkap oleh tinder, tiuplah pelan-pelan, percikan akan menyebar
dan terbakar.
Fire-Plow: merupakan metode friksi pengapian.
Gosokan batang kayu keras melawan kayu lembut sebagai alas. Untuk menggunakan
metode ini, Potong mendalam (lobangi) memanjang dasarnyadan gerakan seperti
membajak naik turun batang kayu yang keras tersebut. Gerakan membajak ini akan
mendesak keluar partikel atau butir serabut kayu. Gerakan friksi ini akan lambat
laun menimbulkan bunga api.
Busur dan Drill: Tehnik pengapian dengan
memakai busur dan drill in simple, anda harus terus berusaha dan gigih untuk
menghasilkan suatu api. Anda akan memerlukan beberapa materi dalam menggunakan
metode ini, yaitu:
-
Socket: Socket ini adalah suatu pegangan
yang terbuat dari kayu atau tulang yang diberikan lubang untuk menahan dan
menekan drill.
-
Drill: Drill haruslah lurus, dari
kayu yang keras dengan diameter 2cm dan panjang 25cm. Ujung atasnya bulat
rata dan ujung bawahnya dibuat mengecil pada ujungnya dan tumpul.
-
Fire Board: Ukurannya terserah anda,
merupakan kayu lunak dengan tebal kira-kira 2,5cm dan lebar 10cm lebih dianjurkan.
Potonglah kedalam kira-kira 2cm dari tepi suatu sisinya dan pada bagian
bawahnya, buatlah potongan V yang dipotong dari permukaan bawahnya untuk
tekanan.
-
Bow: Bow atau busur adalah suatu tongkat
yang terbuat dari kayu muda (hijau) dengan diameter 2,5cm dan lengkap dengan
benangnya. Tipe kayunya tidaklah penting. Tali busurnya bisa memakai jenis
pengikat apapun. Ikatlah ujung busur yang satu dan lainnya dan jangan sampai
kendur.
Untuk menggunakan busur dan drill ini, pertama siapkan
lapisan untuk api, kemudian tempatkan gumpalan tinder dibawah lubang potong
bernebtuk V. Tempatkan satu kaki diatas papan api (fire Board). Pegang socket
dengan satu tangan dan masukan pada bagian atas dari drill. Berikanlah tekanan
pada drill sembari menarik maju mundur busur yang talinya sudah terikat pada
drill sehingga dril akan berputar-putar bolak-balik. Tambahkan tekanan pada
drill dan percepat busur. Aksi ini akan membuat panas dan menghasilkan bunga
api yang akan ditangkap oleh tinder , kemudian tiuplah pelan-pelan sehingga
menyala apinya.
NOTE: cara primitif membuat api sedikit melelahkan dan butuh kesabaran serta
latihan.
BAHAYA...!!!!!
Hindari mendekatkan batu basah atau batu yang berlubang-lubang dekat api, terlebih
lagi batu yang telah terrendam cukup lama dalam air - karena ada kemungkinan
akan meledak jika dipanaskan, juga jika terlalu dekat dengan air ada kemungkinan
mata akan kemasukan bara-bara kecil yang berterbangan sewaktu api berkobar.
Jangan gunakan batu apung atau batu yang lunak. Lakukanlah tes terlebih dahulu
dengan memukul-mukulkannya serta jangan gunakan batu yang retak atau yang mengeluarkan
suara hampa.